FTP (File Transfer Protocol)
FTP adalah, Program yang digunakan pada komputer berbasis Windows untuk mentransfer file (software atau dokumen) pada Internet.
Menurut wikipedia, FTP merupakan salah satu protokol Internet yang paling awal dikembangkan, dan masih digunakan hingga saat ini untuk melakukan pengunduhan (download) dan penggugahan (upload) berkas-berkas komputer antara klien FTP dan server FTP.
Sebuah Klien FTP merupakan aplikasi yang dapat mengeluarkan perintah-perintah FTP ke sebuah server FTP, sementara server FTP adalah sebuah Windows Service atau daemon yang berjalan di atas sebuah komputer yang merespons perintah-perintah dari sebuah klien FTP.
Perintah-perintah FTP dapat digunakan untuk mengubah direktori, mengubah modus pengiriman antara biner dan ASCII, menggugah berkas komputer ke server FTP, serta mengunduh berkas dari server FTP dan tentu saja pengertian FTP ini berbeda jauh dengan Pengertian Email.
Fungsi FTP (File Transfer
Protocol)
Berdasarkan model suite Internet Protocol, FTP adalah bagian dari level aplikasi protokol yang memungkinkan komunikasi antara mesin. FTP merupakan salah satu protokol internet yang paling awal dikembangkan, dan masih digunakan hingga saat ini untuk men-download, meng-upload file-file komputer antara FTP Server dan FTP Client.
Fungsi FTP adalah melakukan transfer file antara komputer yang terhubung melalui jaringan, termasuk Internet. Dalam bahasa teknis, FTP dikenal sebagai protokol jaringan yang memungkinkan transfer file antara komputer yang tersambung pada TCP/IP yang berbasis jaringan. Hal Ini mencakup serangkaian peraturan dan prosedur untuk transfer data digital yang aman.
Fungsi FTP lainnya adalah otentikasi dan kesalahan penanganan teknik untuk membangun koneksi antara komputer host dan klien untuk pertukaran data. Demikian pula Hyper Text Transfer protocol (HTTP), menangani transfer halaman web dari server ke komputer klien.
Layanan remote login mengacu pada
program atau protokol yang menyediakan fungsi yang memungkinkan seorang
pengguna internet untuk mengakses (login) ke sebuah terminal (remote host)
dalam lingkungan jaringan internet. Dengan memanfaatkan remote login, seorang
pengguna internet dapat mengoperasikan sebuah host dari jarak jauh tanpa harus
secara fisik berhadapan dengan host bersangkutan. Dari sana ia dapat melakukan
pemeliharaan (maintenance), menjalankan sebuah program atau malahan menginstall
program baru di remote host.
Protokol yang umum digunakan untuk keperluan remote login adalah Telnet (Telecommunications Network). Telnet dikembangkan sebagai suatu metode yang memungkinkan sebuah terminal mengakses resource milik terminal lainnya (termasuk hard disk dan program-program yang terinstall didalamnya) dengan cara membangun link melalui saluran komunikasi yang ada, seperti modem atau network adapter. Dalam hal ini, protokol Telnet harus mampu menjembatani perbedaan antar terminal, seperti tipe komputer maupun sistem operasi yang digunakan.
Aplikasi Telnet umumnya digunakan oleh pengguna teknis di internet. Dengan memanfaatkan Telnet, seorang administrator sistem dapat terus memegang kendali atas sistem yang ia operasikan tanpa harus mengakses sistem secara fisik, bahkan tanpa terkendala oleh batasan geografis.
Namun demikian, penggunaan remote login, khususnya Telnet, sebenarnya mengandung resiko, terutama dari tangan-tangan jahil yang banyak berkeliaran di internet. Dengan memonitor lalu lintas data dari penggunaan Telnet, para cracker dapat memperoleh banyak informasi dari sebuah host, dan bahkan mencuri data-data penting sepert login name dan password untuk mengakses ke sebuah host. Kalau sudah begini, mudah saja bagi mereka-mereka ini untuk mengambil alih sebuah host. Untuk memperkecil resiko ini, maka telah dikembangkan protokol SSH (secure shell) untuk menggantikan Telnet dalam melakukan remote login. Dengan memanfaatkan SSH, maka paket data antar host akan dienkripsi (diacak) sehingga apabila "disadap" tidak akan menghasilkan informasi yang berarti bagi pelakunya.
Protokol yang umum digunakan untuk keperluan remote login adalah Telnet (Telecommunications Network). Telnet dikembangkan sebagai suatu metode yang memungkinkan sebuah terminal mengakses resource milik terminal lainnya (termasuk hard disk dan program-program yang terinstall didalamnya) dengan cara membangun link melalui saluran komunikasi yang ada, seperti modem atau network adapter. Dalam hal ini, protokol Telnet harus mampu menjembatani perbedaan antar terminal, seperti tipe komputer maupun sistem operasi yang digunakan.
Aplikasi Telnet umumnya digunakan oleh pengguna teknis di internet. Dengan memanfaatkan Telnet, seorang administrator sistem dapat terus memegang kendali atas sistem yang ia operasikan tanpa harus mengakses sistem secara fisik, bahkan tanpa terkendala oleh batasan geografis.
Namun demikian, penggunaan remote login, khususnya Telnet, sebenarnya mengandung resiko, terutama dari tangan-tangan jahil yang banyak berkeliaran di internet. Dengan memonitor lalu lintas data dari penggunaan Telnet, para cracker dapat memperoleh banyak informasi dari sebuah host, dan bahkan mencuri data-data penting sepert login name dan password untuk mengakses ke sebuah host. Kalau sudah begini, mudah saja bagi mereka-mereka ini untuk mengambil alih sebuah host. Untuk memperkecil resiko ini, maka telah dikembangkan protokol SSH (secure shell) untuk menggantikan Telnet dalam melakukan remote login. Dengan memanfaatkan SSH, maka paket data antar host akan dienkripsi (diacak) sehingga apabila "disadap" tidak akan menghasilkan informasi yang berarti bagi pelakunya.
Pengertian
e-Learning
Istilah
e-Learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang
menguraikan tentang definisi e-Learning dari berbagai sudut pandang. Salah satu
definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E.
Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan: “e-Learning merupakan suatu
jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa
dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer
lain."
LearnFrame.Com
dalam Glossary
of e-Learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih
luas bahwa: “e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi
elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan
komputer,maupun komputer standalone.”
Dari puluhan atau bahkan ratusan definisi yang muncul
dapat kita simpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan
teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu
e-Learning.
Beragam istilah dan batasan telah
dikemukakan oleh para ahli teknologi informasi dan pakar pendidikan. Secara
sederhana e-learning dapat difahami sebagai suatu proses pembelajaran yang
memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana
telekomunikasi (internet, intranet, ekstranet) dan multimedia (grafis, audio,
video) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara
pengajar (guru/dosen) dan pembelajar (siswa/mahasiswa).
Model pembelajaran berbasis TIK
dengan menggunakan e-learning berakibat pada perubahan budaya belajar dalam
kontek pembelajarannya. Setidaknya ada empat komponen penting dalam membangun
budaya belajar dengan menggunakan model e-learning di sekolah. Pertama, siswa
dituntut secara mandiri dalam belajar dengan berbagai pendekatan yang sesuai
agar siswa mampu mengarahkan, memotivasi, mengatur dirinya sendiri dalam
pembelajaran. Kedua, guru mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan,
memfasilitasi dalam pembelajaran, memahami belajar dan hal-hal yang dibutuhkan
dalam pembelajaran. Ketiga tersedianya infrastruktur yang memadai dan yang ke
empat administrator yang kreatif serta penyiapan infrastrukur dalam
memfasilitasi pembelejaran.
Permasalahan yang dihadapi sekolah
saat ini adalah pada tingkat kesiapan peserta belajar, guru, infrastruktur
sekolah, pembiayaan, efektifitas pembelajaran, sistem penyelenggaraan dan daya
dukung sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Lalu, apakah
mungkin program e-learning dapat dilaksanakan di sekolah? Ini yang menjadi
esensi dari kebermaknaan e-learning di sekolah.
Menyiapkan
program e-learning
Pengalaman menunjukan dalam
menyiapkan program e-learning tidaklah sesulit dalam bayangan kita, asalkan
kita memiliki kemauan dan komitmen yang kuat untuk menuju ke arah itu. Tanpa
komitmen dan dukungan secara teknis maka program e-learning di sekolah tidak
mungkin akan terealiasi. Ada tip tentang kunci sukses terealisasinya program
e-learning, sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Bates, 2005) dalam
journal of e-learning volume 5 tahun 2005, yakni adanya perencanaan dan
leadership yang terarah dengan mempertimbangkan efektifitas dalam pembiayaan,
integritas sistem teknologi serta kemampuan guru dalam mengadapsi perubahan
model pembelajaran yang baru yang sudah barang tentu didukung kemampuan mencari
bahan pembelajaran melalui internet serta mempersiapkan budaya belajar bagi
siswa.
Ada empat langkah dalam manajemen
pengelolaan program e-learning yakni pertama menentukan strategi yang jelas
tentang target audience, pembelajarannya, lokasi audience, ketersediannya
infrastruktur, budget dan pengembalian investasi yang tidak hanya berupa uang
tunai. Kedua menentukan peralatan misalnya hoste vs installed LMS dan
Commercial or OS-LMS, ketiga adalah adanya hubungan dengan perusahan yang
mengembangkan penelitian berkaitan dengan program e-learning yang dikembangkan
di sekolah. Ke empat menyiapkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan bersifat
spesifik, usulan yang dapat diimplementasikan serta menyiapkan short response
time. Kesemuanya itu, hendaknya perlu dipikirkan masak-masak dalam konteks
investasi jangka panjang.
Membudayakan
belajar berbasis TIK
Berkembangnya teknologi pembelajaran
berbasis TIK mulai tahun 1995 an, salah satu kendalanya adalah menyiapkan
peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang
trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta
masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan
model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah
keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta
dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan.
Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan
teknologi. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High
School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni
sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi.
Kompetensi guru dalam pembelajaran
Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model
pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional
(instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan
dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni
pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan
materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan
materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang
dimiliki.
Langkah-langkah kongkrit yang harus
dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi
bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai
dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya
dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung
oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan
materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan
kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan
siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke
situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah
mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal
meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.
Dalam penetapan kualitas
pembelejaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh
lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the
Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005),
dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi:
kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup,
penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang
signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta
umpan balik yang kritis dari peserta didik.
Beberapa hal yang perlu dicermati
dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan
internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan
belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas
pemanfaatan internet dalam ruang multi media.
Dengan mencermati perkembangan
teknologi informasi dalam dunia pendidikan dan beberapa komponen penting yang
perlu disiapkan serta pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning
maka program e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan
sesegera mungkin untuk diwujudkan.
Teknologi komunikasi dan informasi di dunia pendidikan
Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya
dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya
penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
1. dari pelatihan ke penampilan,
2. dari ruang kelas ke di mana dan
kapan saja,
3. dari kertas ke “on line” atau
saluran,
4. fasilitas fisik ke fasilitas
jaringan kerja,
5. dari waktu siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan
dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer,
internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan
melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan
media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan
langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam
lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya
dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah
berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu
proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang
makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model
pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi
khususnya internet. E-Learning merupakan proses belajar-mengajar secara
virtual, dimana siswa tidak perlu datang ke kelas seperti dalam proses belajar
mengajar konvensional. Siswa dapat menentukan prioritas bahan pelajaran dan
tempo belajarnya sendiri sesuai kebutuhannya dan bisa mengulang pelajaran jika
dirasakan perlu.
Menurut Rosenberg (2001; 28),
e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran
dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
1. E-learning merupakan jaringan dengan
kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar
atau informasi,
2. Pengiriman sampai ke pengguna
terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
3. Memfokuskan pada pandangan yang
paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang
berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based
Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning
Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC
(Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
Satu bentuk produk TIK adalah
internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21.
Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat
manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu
instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi
transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal
batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat
mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan
pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam
kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi
internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang
kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan
pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global.
Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola
kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau
bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan
kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah
mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional
yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di
kelas maupun di luar kelas.
Di masa-masa mendatang, arus
informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global
di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan
itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan
khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari
keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek
terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema “Asia
in the New Millenium” yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan
yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama,
sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. termasuk di dalamnya pengaruh
revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang
berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan
judul “Rebooting:The Mind Starts at School”.
Dalam tulisan tersebut dikemukakan
bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan
ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium
komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru
berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai
“cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan
aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar
yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui
komputer dan internet.
Anak-anak berhadapan dengan komputer
dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan
internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak
akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan
individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran
yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk
yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan
kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran
maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam
situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai
dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.
Dalam tulisan itu, secara ilustratif
disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi
buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa:
1. komputer notebook dengan akses
internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan
bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera
digital serta perekam suara,
2. Jam tangan yang dilengkapi dengan
data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator,
dsb.
3. Videophone bentuk saku dengan
perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV,
4. alat-alat musik,
5. alat olah raga, dan
6. bingkisan untuk makan siang.
Hal itu menunjukkan bahwa segala
kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa
internet sebagai alat bantu belajar.
Meskipun teknologi informasi
komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang
proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain
masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak
lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang
dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat
individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek
informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari
internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis
terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan
internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang
bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam
hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan
pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik
dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.
E-Book
Secara teknologi, e-book sebenarnya adalah
sekumpulan teks digital. Michael Hart dan Proyek Gutenberg-nya adalah pionir
yang mengupayakan penggunaan teknologi digital untuk bahan-bahan tekstual. Dia
memulai proyeknya tahun 1971 dengan mendigitalkan Declaration of
Independence (proklamasi kemerdekaan AS) memakai standar yang dikenal
dengan nama American Standard Code for Information Interchange (ASCII).
Teknologinya masih sederhana dan tanpa pertimbangan keindahan tampilan seperti
yang sekarang dapat dilakukan dengan berbagai program pengolah kata. Tujuannya
memang juga sederhana: menyediakan sebanyak mungkin teks digital kepada
masyarakat umum. Buku yang dibuat menjadi digital kepada katagori: (a) buku
sastra “ringan’ seperti Alice in Wonderland, (b) buku sastra berat seperti
karya-karya Shakespeare, dan (c) buku-buku rujukan seperti almanac,
ensiklopedia, dan kamus.
Setelah teknologi scanner berkembang, kepustakawanan
dapat memesan replica dari buku-buku yang sudah tidak dicetak lagi
(out-of-print). Beberapa perusahan penerbitan, seperti Replica Books dan
Ingram’s Lighting Source lalu mulai menyediakan teks digital atau hasil scan
dari halaman-halaman buku yang sudah tidak dicetak lagi. Sewaktu teknoogi
CD-ROM telah stabil, maka semakin banyak tersedia teks digital dari keseluruhan
buku. Produsen mulai memanfaatkan pula teknologi temu-kembali sehingga e-book
memiliki kelebihan daripada buku cetak dalam hal kemudahan mencari kata tertentu
atau berpindah-pindah halaman. Namun, antarmuka dari e-book ini tetap
kurang menarik dan menyulitkanpembaca menikmati isi buku senikmat kalau mereka
membaca buku tercetak. Ketika kecepatan transfer di Internet meningkat, maka e-books
pun disebarkan lewat ‘jalur cepat’ ini.
Perkembangan teknologi e-books ini tentu saja
memerlukan berbagai praktik baru dalam kepustakawanan. Walau bagaimanapun,
pustakawan harus seksama memperhatikan perkembangan e-journal dan e-books
agar dapat menyusun rencana antisipatif jika suatu saat kebutuhan nya
semakin meningkat
Pembagian /
jenis e-book
Adadua macam e-book yang tersedia,yaitu :
Pertama, e-book yang bersifat ‘tertutup’ dan
hanya dapat dibaca dengan alat dan program khusus. Kedua, e-books yang
dapat dibaca oleh berbagai peralatan digital (tidak khusus). Untuk jenis
pertama, setiap berkas hanya dapat dibaca dengan perangkat yang sudah disiapkan
khusus, misalnya merek Rocket dan Softbook. Perangkat kerasnya dibuat agar
mudah dibawa-bawa (portable). Tidakk hanya teks yang ditampilkan, tetapi juga
bisa suara video. Sudah tentu pula, ada fasilitas temu-lkembali yang memudahkan
pembaca berpindah-pindah.
Perangkat atau alat baca (e-books reader)
seperti ini belum terlalu popular mengingat tingkah resolusi layarnya masih
jauh lebih rendah dibandingkan resolusi kertas. Jika sebuah buku kertas mampu
memberikan resolusi 1200 dpi (dots per inch) sehingga mata kita tidak lelah
membaca, maka e-books seringkali hanya bisa mencapai 105 dpi atau bahkan
hanya 72 dpi. Tidak heran jika para pembacanya mengeluh sering sakit kepala.
Bentuk dan ukuran alat-baca yang saat ini tersedia memang sudah menyerupai buku
biasa, namun mungkin agak lebih berat. Selain itu, alat ini memerlukan baterai
yang usianya masih pendek, sehingga kalau lupa mengisi (charging), kita akan
kesal apalagi bila sedang asyik membaca novel dan baterai nya habis maka akan
mati seketika.
E-books jenis kedua yang tersedia di
Internet adalah yang untuk dibaca di berbagai alat digital, mulai dari
(desktop, laptop, sampai PDA (personal digital assistant). Kunci dari e-books
jenis ini tentu saja adalah penggunaan bahas penyajian yang terstandar.
Perusahaan-perusahaan seperti Microsoft, Glassbook, dan Librius sedang bekerja
bersama National Institute of Standards and Technology untuk mencapai
kesepakatan tentang standar penyajian teks untuk e-books yang dapat
dibaca di segala jenis komputer. Sudah ada sebuah standar yang dapat dibaca di
berbagai alat digital, yaitu Open e-book Publication Structure, terbit
tahun 1999, mengombinasikan Hypertext Markup Language (HTML) dan eXtensible
Markup Lannguage (XML). Dengan standar ini, masing-masing penerbit dapat
membuat sebuah buku digital tanpa harus memikirkan versi berbeda untuk
alat-baca yang berbeda.
Jenis e-book berdasarkan formatnya. Popularitas
umumnya bergantung pada ketersediaan berbagai E-book dalam format
tersebut dan mudahnya prangkat lunak yang digunakan untuk membaca jenis format
tersebut diperoleh.
- Teks polos, teks polos adalah format paling sederhana yang dapat dilihat hampir dalam setiap prangkat lunak menggunakan komputer personal. Untuk beberapa device, format ini dapat dibaca menggunakan prangkat lunak yang harus lebih dahulu diinstal.
- PDF, Format PDF memberikan kelebihan dalam hal format yang siap untuk dicetak. Bentuknya mirip dengan bentuk buku sebenarnya. Selain itu terdapat pula fitur pencarian, daftar isi, memuat gambar, dan juga multimedia.
- JPEG, Seperti halnya format gambar lainnya, format JPEG memliki ukuran yang besar dibandingkan informasi teks yang dikandungnya, oleh karena itu format ini umumnya populer bukan untuk E-book yang memilki banyak teks akan tetapi untuk jenis buku komik atau manga yang proporsinya lebih didominasi oleh gambar.
- HTML, Dalam format HTML ini gambar dan teks dapat diakomodasi. Layout tulisan dan gambar dapat diatur, akan tetapi hasil dalam layar kadang tidak sesuai apabila dicetak.
Jenis-jenis e-book berdasarkan kontennya. Yang
paling umum adalah tipe buku digital. Jenis buku ini adalah yang paling
tradisional, biasanya jumlah halamannya ada ratusan dan isinya persis dengan
buku-buku kertas. Tipe e-book ini dipilah-pilah kedalam bab dan beberapa
topik dan mengandung lebih dari satu ide.
Jenis e-book berikutnya adalah manifesto atau e-book
yang halamannya kurang dari seratus halaman, topik yang ada dalam e-book
ini hanya satu, tidak seperti buku digital yang memiliki topik lebih dari satu.
Sedangkan jenis e-book lainnya adalah e-book
bonus atau konten arsip. Jenis ini biasanya dipakai blogger/webmaster guna
menarik pengunjung untuk datang ke blogg/webmasternya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar